Bagi kebanyakan kita, Lebaran mungkin hanya dimaknai tentang ‘ritual’ tahunan, berburu tiket mudik, antre siraman opor hangat diatas ketupat, atau sekadar menghitung saldo THR yang numpang lewat.
Lebih dari itu, Lebaran memiliki esensi lebih mendalam. Tentang sebuah perjalanan pulang menuju Fitrah. Fitrah manusia adalah kesucian dan kebersihan. Dalam sejarahnya, manusia lahir di surga, dan melalui perjuangan panjang selama bulan ramadan, kita sejatinya sedang menempuh jalan untuk kembali kesana. Kembali menjadi pribadi yang layak memegang “KTP Surga“
Namun, kesucian diri rasanya belum genap tanpa ketulusan untuk menjahit kembali robekan hati yang pernah tersakiti. Disinilah Idulfitri menemukan maknanya yang paling krusial bagi bangsa ini: sebagai momentum untuk saling memaafkan.
Memaafkan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan potensi awal bagi terciptanya kohesivitas persatuan antar umat. Dalam satu kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) momentum lebaran seharusnya menjadi titik henti bagi segala bentuk caci maki. Sudah saatnya kita berhenti saling menjatuhkan dan mendiskreditkan satu sama lain di ruang publik.
KIta adalah satu warga negara yang harus saling menjaga, bukan saling memisahkan. Seperti yang pernah disampaikan Pak Hadi “Inilah saat yang tepat untuk kembali pada semangat saling asih dan asuh” karena sebagai sesama anak bangsa, kita memiliki kewajiban untuk saling mengikhlaskan.
Mari jadikan Idulfitri tahun ini sebagai langkah nyata untuk merajut kembali kebersamaan. Dengan hati yang bersih dan tangan yang saling berjabat, kita perkuat satu kesatuan Negara Republik Indonesia menuju masa depan yang lebih harmonis.
Sumber :