SEMARANG, PKS JATENG Online – Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei 2026 menjadi ajang untuk refleksi sekaligus evaluasi tentang sudah sejauh mana pendidikan di Indonesia mencapai titik keemasannya.
Bukan hanya sekadar terpampang bebasnya gambar Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan, tetapi sejauh mana pendidikan telah membawamu ? Dalam sebuah pernyataan, Hadi Santoso selaku Ketua DPW PKS Jawa Tengah menyampaikan,
“Di balik kemajuan sebuah bangsa, ada guru yang sabar, ada orang tua yang ikhlas, dan ada generasi yang tekun terus belajar.”
Di balik kemajuan sebuah bangsa, selalu ada dedikasi guru yang sabar, keikhlasan orang tua yang terus mendoakan, serta generasi penerus yang tekun belajar. Ketiga elemen ini menjadi satu kesatuan utuh yang terus merawat kemerdekaan dan kebebasan yang dirasakan bangsa Indonesia saat ini.
Kembali Pada Sejarah
Ketika kembali menengok masa penjajahan dahulu, para pejuang kemerdekaan yang memiliki semangat dan kesadaran untuk terbebas dari belenggu penjajah bermula dari mana? Pendidikan.
Kebijakan Politik Balas Budi pada masa penjajahan justru dimanfaatkan dengan sangat baik oleh para pejuang kita sebagai ruang untuk mencerdaskan diri dan membangun kesadaran kebangsaan. Semua kebangkitan itu berakar dari satu hal: pendidikan.
Berkaca Era Modern Saat Ini
Di era modern ini, pendidikan bukanlah sekadar mesin pencetak sarjana dan orang pintar. Hadi Santoso, menekankan pentingnya esensi pendidikan yang lebih dalam bagi generasi saat ini:
“Kepintaran bisa membuat seseorang hebat, tetapi keberkahan ilmu yang menjadikannya bermanfaat bagi banyak orang,” ujar Hadi.
Kepintaran dapat mengangkat seseorang menjadi hebat, namun hanya keberkahan ilmu yang menjadikannya benar-benar bermakna; menerangi kehidupan, menghadirkan kemanfaatan, dan meninggalkan jejak kebaikan lintas zaman.
Ilmu yang berhasil bukanlah sekadar alat untuk mendapatkan pekerjaan yang layak atau kehidupan yang mapan secara materi. Lebih dari itu, ilmu yang berkah adalah ilmu yang mampu menerangi kehidupan, menghadirkan kemanfaatan bagi orang banyak, dan meninggalkan jejak kebaikan yang melintasi zaman.
“Negeri ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sedang merindukan ilmu yang barokah; ilmu yang menuntun, bukan sekadar meninggikan,” pungkas Hadi.
Sumber :