Sabtu, 07 Februari 2026

PKS: Kewaspadaan Virus Nipah Harus Diperkuat secara Terukur dan Terkoordinasi




JAKARTA — Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, menegaskan pentingnya penguatan kewaspadaan nasional terhadap potensi penularan Virus Nipah, seiring meningkatnya kasus di sejumlah negara dan langkah antisipatif yang telah diambil pemerintah Indonesia.

Virus Nipah adalah virus yang menyebabkan penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Reservoir alami Virus Nipah adalah kelelawar buah, dan penularan ke manusia dapat terjadi melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi atau melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi. Gejalanya dapat berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, peradangan otak, hingga koma.

Menurut Netty, saat ini belum terdapat kasus terkonfirmasi Virus Nipah pada manusia di Indonesia. Namun, kewaspadaan tetap harus diperkuat mengingat karakter virus yang bersifat zoonotik dan memiliki tingkat kematian yang tinggi. Hal itu disampaikannya pada Kamis (5/2).

Ia menilai kewaspadaan yang dilakukan pemerintah merupakan langkah pencegahan yang proporsional. Langkah tersebut bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan memastikan sistem kesehatan nasional siap menghadapi potensi risiko.

Ketua DPP PKS Bidang Pembinaan Masyarakat Rentan dan Disabilitas ini mengapresiasi diterbitkannya Surat Edaran Kementerian Kesehatan tentang kewaspadaan terhadap Virus Nipah yang mengatur pengetatan pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional, alat angkut, serta barang dari luar negeri, khususnya dari negara terdampak.

Menurutnya, penguatan pengawasan di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pendataan pada aplikasi Satu Sehat Health Pass, serta kesiapsiagaan petugas kesehatan merupakan langkah yang tepat dan perlu dijalankan secara konsisten.

Netty juga menilai pentingnya penguatan surveilans di fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan, agar gejala yang menyerupai infeksi Virus Nipah dapat terdeteksi sejak dini. Ia menekankan bahwa sistem rujukan dan pelaporan harus berjalan cepat dan terkoordinasi.

Selain aspek kesehatan manusia, Netty mengingatkan bahwa pencegahan Virus Nipah tidak dapat dilepaskan dari isu kesehatan hewan dan lingkungan.

“Indonesia memiliki tingkat interaksi manusia dan satwa liar yang tinggi, termasuk keberadaan kelelawar sebagai reservoir alami virus. Pendekatan one health menjadi sangat relevan. Pengawasan lalu lintas hewan, edukasi masyarakat, serta perlindungan ekosistem harus menjadi bagian dari strategi pencegahan,” jelasnya.

Netty mendorong pemerintah untuk memperkuat edukasi publik terkait langkah-langkah pencegahan sederhana namun krusial, seperti keamanan konsumsi pangan, pengolahan nira dan produk hewani secara benar, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

“Edukasi ini penting agar masyarakat memiliki pemahaman yang tepat tanpa menimbulkan stigma maupun ketakutan berlebihan,” tambahnya.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan riset dan kolaborasi lintas lembaga, termasuk dengan BRIN dan institusi akademik, mengingat hingga kini belum tersedia obat maupun vaksin spesifik untuk Virus Nipah.

Sumber :