Selasa, 07 Juli 2026

Belajar Keteguhan Dakwah dari Senior “Lolita”lalintang



SEMARANG, PKS JATENG Online — Suara dari pelantang panitia Ahad (5/7/2026) pagi menjelang siang kemarin terdengar keras membelah langit perkemahan Kemah Bakti Nusantara (Kembara) PKS Jawa Tengah, di kawasan lereng Gunung Merbabu. Suaranya bergetar menahan haru saat mengumumkan nama peserta tertua untuk maju ke depan.

“Ustadz Wakhidin dan istri, silakan maju,” panggil sang panitia. Seketika, lapangan bergemuruh oleh takbir dan pekik tangis kebahagiaan ribuan peserta yang hadir.

Di sudut barisan, sesosok tubuh sepuh berusia 74 tahun bangkit dengan langkah gemetar. Beliau menembus lautan manusia menuju tengah lapangan, disusul sang istri tercinta, Ibu Nuriah Adam, yang matanya telah basah oleh air mata.Peserta paling seniorusia 70 tahun, giat gabungan Kembara & Latansa masih bersemangat dalam kegiatan. 

Hari itu, kesabaran dan keikhlasan panjang mereka berbuah manis. Ustadz Wakhidin dan istri mendapatkan kejutan hadiah ibadah umrah dari Ketua Fraksi Dr. H. Abdul Kharis Almasyhari yang diserahkan langsung oleh Presiden PKS Dr. H. Almuzzammil Yusuf.

Saat dimintai tanggapannya atas “kado dari langit” tersebut, air mata Ustadz Wakhidin masih menggenang. Dari lisan sepuhnya meluncur sebuah pesan motivasi yang begitu menghentak kesadaran. Menyitir kalimat tajam pemikir Islam M. Iqbal, beliau mengingatkan para kader muda.

“Perjuangan dakwah ini tak pernah mengenal kata henti, apalagi menua,” ucap beliau dengan suara bergetar. “Sikap lamban berarti mati. Siapa yang bergerak, dialah yang akan maju kemuka. Siapa yang menunggu, sejenak sekalipun, pasti akan tergilas.”

Aku berdiri tak jauh dari mereka, menyaksikan momen mengharu biru itu dengan dada yang terasa kian sesak. Keduanya saling bertatapan di tengah lapangan, dan tangis mereka pun kembali pecah di bawah terik matahari. Pertahanan emosiku pun ikut runtuh.

Sebagai Ketua DPW PKS Jawa Tengah, aku tiba-tiba merasa begitu kerdil di hadapan ketulusan sepasang kakek nenek pejuang dakwah ini. Ruh dari kutipan yang disampaikannya benar-benar mewujud nyata dalam setiap tarikan napas tuanya di perkemahan ini.


Ribuan Pejuang Senja Bernyali Baja

Agenda Kembara kali ini memang sangat spesial dan sukses menguras air mata. Perkemahan ini diikuti oleh lebih dari seribu orang peserta, dan luar biasanya, mereka semua merupakan para senior dakwah dengan jam terbang puluhan tahun! Sebagian besar dari mereka masuk kategori “Lolita” alias Lolos Lima Puluh Tahun.

Namun, ketika seruan kemah bela negara ini dikumandangkan, jawaban mereka sungguh menghentak nurani: “Siap berangkat!”. Tidak ada keraguan di wajah keriput mereka, apalagi keluh kesah.

Bayangkan saja kerasnya medan perkemahan yang harus mereka taklukkan. Selama tiga hari, para bapak harus melakukan moving camp atau long march sebanyak empat kali. 

Mereka berjalan jauh menapaki jalan terjal lereng Gunung Merbabu sambil menggendong seluruh perbekalan dan tenda. Sampai-sampai ada yang nyeletuk ini mirip kemah bekicot, karena rumahnya dibawa ke mana-mana. Semangat membara mereka terbukti sukses menutupi segala keterbatasan fisik di usia senja.

Bahkan, ada cerita lucu sekaligus haru dari komunitas Camper Van Indonesia yang kebetulan berkemah di sebelah lapangan kami. Mereka keheranan melihat perkemahan kami yang berpindah diam-diam dan sangat bersih pada pukul dua dini hari. Pagi harinya, tenda sudah rapi dan pesertanya berganti para ibu-ibu yang mengikuti agenda Latansa.

Salah satu dari mereka sampai berkata: “Itu kemah PKS atau kemah setan. Kok aneh?”

“Loh, aneh kenapa Pak?” Tanyaku tak kalah heran.

“Kemarin kan bapak-bapak. Kok pas kami bangun sudah berjilbab semua. Bapak-bapak kemana? Terus tendanya di kemanakan? Kan lebih dari 100 tenda kemarin. Sekarang kok sudah bersih?”

“Bapak-bapak sudah melanjutkan perjalanan dini hari tadi, dengan seluruh tenda. Kami bawa pindah Pak.”

“Haaa.. digendong?” Sahut mereka.

“Iyaaa…”

“Aneh. Tiba-tiba datang, tiba-tiba hilang. Kayake tua-tua, tapi kok ya mau…”

Mereka ternyata takjub melihat kesigapan para peserta sepuh dalam mematuhi komando qiyadah. Para peserta senior yang selalu teguh menggenggam komitmen perjuangan dakwah, apapun kondisinya.


Ibrah dari Kisah Ustadz Wakhidin

Keteguhan tingkat tinggi itu sangat nyata bisa kita temukan dalam sosok Ustadz Wakhidin, lakon kisah ini. Lahir di Tegal pada tahun 1955, kakek dari 12 cucu ini bukanlah orang sembarangan. Beliau pernah mengabdi belasan tahun sebagai guru, menjadi Anggota DPRD Kabupaten Tegal Fraksi PKS periode 2004-2014, dan hingga kini tetap aktif membina Yayasan Ulin Nuha. 

Sang istri, Ibu Nuriah, juga seorang pensiunan perawat RSPAD yang sangat tangguh menemani perjuangannya.

Di usia senja dengan lima anak yang semuanya sudah mandiri, Ustadz Wakhidin dan istri masih rela tidur beralaskan matras tipis dan menahan dinginnya angin malam di dalam tenda Kembara dan Lantasa. Kesungguhan mereka mengalahkan rasa sakit, dan tekad baja mereka meruntuhkan kerapuhan fisik.

Lewat tindakan nyata, para senior ini mengajarkan filosofi kehidupan yang sangat mahal: ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.

Melihat air mata Ustadz Wakhidin, ingatanku tetiba melayang pada kisah heroik sahabat Nabi, Abu Ayyub al-Ansari. Di usianya yang sudah sangat renta, Abu Ayyub tetap bersikeras ikut mengangkat senjata dalam ekspedisi pembebasan Konstantinopel. 

Beliau menolak hak istirahatnya karena sangat meyakini perintah Allah dalam Al-Quran untuk terus berjuang, baik dalam keadaan ringan maupun berat. Ketangguhan Abu Ayyub itu kini mengejawantah sempurna dalam barisan para senior di Kembara PKS Jawa Tengah ini. Para senior “Lolita” yang sangat kami hormati.

Lalu, aku menunduk dan menatap diriku sendiri. Apalah saya ini? Hanya seorang santri muda yang masih fakir pengalaman, minim pengetahuan, dan sangat jauh dari kata ideal sebagai seorang ketua.

Jabatan struktural ini nyatanya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan jam terbang dan jejak keringat mereka para senior di jalan dakwah. Sungguh aku merasa sangat terhormat bisa menjadi santri dari beliau-beliau ini.


Kado Langit dan Makna Istirahat Sejati

Hadiah umrah siang itu pada hakikatnya bukanlah sekadar reward seremonial belaka, melainkan pesan langsung dari langit yang dibayar kontan. Allah seolah ingin menunjukkan kepada kita—generasi muda yang kadang gampang mengeluh lelah, burnout, atau rapuh mentalnya— bahwa keteguhan hati dan kesabaran di jalan dakwah tak akan pernah berujung sia-sia. Sopo tekun bakale tekan.

Dari keriput wajah Ustadz Wakhidin dan napas ngos-ngosan para senior di medan Kembara, tergambar jelas bahwa istirahat sejati seorang pejuang bukanlah saat merebahkan punggung di atas matras, melainkan kelak ketika raga ini telah tuntas menunaikan amanah kehidupan.

Saudaraku, para kader dakwah di manapun antum berada, peristiwa ini adalah teguran keras bagi nurani kita. Jika para senior yang tubuhnya sudah renta saja masih sanggup memanggul tenda dan berdiri di garis depan, pantaskah kita yang muda ini mundur karena alasan lelah?

Teruslah kokoh melangkah di jalan dakwah. Rawat ikhtiar dan doa itu, hingga kelak Allah sendiri yang membalas lelah kita dengan pelukan kasih sayang-Nya.

Oleh Hadi Santoso Ketua DPW PKS Jawa Tengah

Sumber :