Kamis, 14 Agustus 2014

Novela Nawipa, Sang Artis MK


Ketika saya menelusuri profil Novela dan menemukan latar belakang partai dan 'direktur' untuk kemudian memposting tentang apresiasi terhadap Novela atas 'heboh' nya di Persidangan MK kemarin, saya sudah menduga akan ada media nasional yang mengangkat kedua latar belakang tersebut dengan tujuan 'mencuci otak' masyarakat kembali dengan retorika berita untuk membentuk opini bahwa Novela cenderung punya kepentingan dan tidak jujur.
Coba saja perhatikan kelihaian pemberian judul berita tersebut di salah satu media pendukung Jokowi:
*Novela, Saksi yang Heboh di MK Seorang Direktur dan Ketua DPC Gerindra*
http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/08/12/164229/2660158/1562/2/novela-saksi-yang-heboh-di-mk-seorang-direktur-dan-ketua-dpc-gerindra
DETIKdotCOM tidak menggunakan kata 'ternyata' sebelum kata 'seorang' dalam pemberian judul berita. Jika judul berita tersebut lebih ofensif, mungkin akan menimbulkan riak yang lebih heboh, melebihi kehebohan Novela di MK, semisal:
_Novela, Saksi yang Heboh di MK TERNYATA Seorang Direktur dan Ketua DPC Gerindra_
atau:
_"Mengukur kejujuran Novela yang menghebohkan dalam Sidang MK kemarin"_
atau yang lebih ekstrim:
_"Novela ternyata seorang Direktur dan Ketua DPC Partai Gerinda: Jujurkah dalam persidangan?"_
Media dan tentunya pemiliknya amat sangat paham, memastikan ketidakjujuran seseorang adalah 'membahayakan'. Inilah kepiawaian media 'berpengalaman' dalam meracik judul berita dan materi berita.
Dan seperti yang saya duga pula, pendukung Jokowi langsung saja menelan mentah-mentah menu berita tersebut untuk kemudian sahut menyahut menjadi satu dijadikan sebagai bahan "bullyan" bukan dijadikan sebagai kritikan atau topik dialog, khususnya di Forum Kaskus sebagai ladang 'akun-akun' emosional.
Seakan-akan kalau berita itu muncul dari media nasional yang dianggap kredibel, maka berita itu adalah hebat dan benar, tanpa mutilasi, tanpa manipulasi, dan yang terpenting dipandang tanpa muatan kepentingan sang pemilik media.

Kembali ke laptop mbak Novela, sang artis MK
Ketika kita mengukur kejujuran seorang Novela dan saksi-saksi lain dalam persidangan, maka alat ukur yang mudah adalah sumpahnya. Mereka para saksi itu sudah disumpah dengan kitab sucinya. Selama mereka mengakui ada Tuhan yang melihat mereka, maka seharusnya mereka akan berlaku jujur dalam persidangan.
Lalu bagaimana cara mengukur mereka meyakini ada Tuhan yang mengontrolnya sehingga tidak main-main dengan sumpahnya? Silakan diamati saja perjalanan hidupnya. Apakah orang yang bersumpah itu benar-benar adalah seorang pemeluk agama yang baik atau tidak. Silakan diukur bagaimana cara ia meyakini keberadaan Tuhan, intensitas ibadah ritualnya, kebaikan kehidupan terhadap sesama, dan bagaimana kesungguhan ia membela kebaikan-kebenaran.
Jika seseorang sudah bermain-main dengan keberadaan Tuhan, maka sumpahnya juga akan menjadi bahan mainan. Toh ia yakin Tuhan 'untuk sementara' dianggap tidak ada.
Jika seorang direktur atau seorang Ketua DPC dijadikan 'vonis' variabel ketidakjujuran, maka apakah semua pengurus dan petugas partai, atau semua direktur 'wajib' kita ragukan kejujurannya?
Sebagai penutup, seperti postingan saya kemarin soal Novela, mari kita konsentrasi menyikapi seorang Novela dan saksi-saksi MK kemarin dari sisi 'Papua' dan 'Non Papua'. Papua yang mungkin kita anggap selama ini sebagai 'orang kampung', ternyata mereka juga memiliki prinsip yang tegas, dan kemampuan logika yang bagus.
Cobalah rekan-rekan simak status-status Facebook mbak Novela sejak tahun 2011 atau lebih dalam lagi tanyakan langsung kepada yang bersangkutan. Mungkin bisa memperkaya referensi untuk menyimpulkan tingkat kejujuran beliau.
Mari kita doakan semoga saja Novela dan saksi-saksi dari pihak manapun berlaku jujur. Supaya masyarakat ini lebih yakin lagi secara langsung, bahwa masih ada banyak kelemahan dalam pelaksanaan Pemilu di Indonesia, baik yang disengaja, maupun yang tidak disengaja. Yang teknis maupun yang substansi.
[Nukes, nuhun buat kang +Oezank Setia Nugraha atas responnya ...]

Postingan tentang Novela sebelumnya
Sebelumnya saya agak under-estimate dengan kemampuan saudara-saudara di Papua di Persidangan MK. Namun setelah melihat Novela, Vincent, dan saksi-saksi di Persidangan, hipotesis saya ternyata tak teruji.
Mereka begitu menguasai persoalan pemilu dan memiliki kemampuan kecerdasan logika dan verbal yang luar biasa. Dan yang paling utama, mereka sepertinya jauh elegan dari kita yang tinggal di Jawa yang bisa jadi sering merasa lebih berkemampuan namun terbiasa dengan budaya ewuh pakewuh. Suara keras mereka bukan sifat kasar, namun sebuah bentuk ketegasan terhadap kebenaran.
Menyempatkan menyimak persidangan MK hari ini lumayan banyak menghiburnya disamping tetap konsentrasi menyimak materi-materinya.
Mohon maaf dengan tulus buat saudara-saudara di Papua atas kekeliruan hipotesis saya. Dan terima kasih sudah mengajarkan kami di sini bagaimana harus bersikap jujur, elegan, berani, dan tegas. Terima kasih pula sudah membuat Sidang MK menjadi lebih 'cair'. Tetap semangat dan tak perlu cemas dengan berbagai ancaman yang ada.
Semoga Papua menjadi jauh lebih maju dengan kepemimpinan bangsa yang baru. Aamiin ...
Oleh: Rudi Rosidi
https://m.facebook.com/photo.php?fbid=10152641171278832&id=657018831&set=a.10151696083503832.1073741829.657018831
https://plus.google.com/u/0/+RudiBRosidi/posts/ing3Lpm7S9A
https://plus.google.com/u/0/+RudiBRosidi/posts/9j9pXHTM6Yv
Note: judul asli Novela Nawipa (2)
Sumber :