Rabu, 13 November 2013

TEMPO dan KataData ‘Memeras’ Bank Mandiri dalam Kasus SKK Migas ?


Saya adalah seorang perempuan biasa yang sempat bercita-cita menjadi seorang wartawan. Menjadi wartawan TEMPO tepatnya. Kekaguman saya terhadap sosok Goenawan Mohamad yang menjadi alasan utamanya. Dimulai dari mengoleksi coretan-coretan beliau yang tertuang dalam ‘Catatan Pinggir’ hingga rutin membaca Majalah TEMPO sejak masih duduk di bangku pelajar, membulatkan tekad saya untuk menjadi bagian dalam grup media TEMPO.
Dengan polos, saya selalu berpikir, salah satu cara memberikan kontribusi yang mulia kepada masyarakat, mungkin juga negara adalah dengan menjadi bagian dalam jejaring wartawan TEMPO. Apalagi, sebagai awam saya selalu melihat TEMPO sebagai media yang bersih dari praktik-praktik kotor permainan uang. Permainan uang ini, dikenal dalam dunia wartawan dengan istilah ‘Jale’ yang merupakan perubahan kata dari kosakata ‘Jelas’.
“Jelas nggak nih acaranya?”
“Ada kejelasan nggak nih?”
“Gimana nih broh, ada jale-annya nggak?”
Kira-kira begitu pembicaraan yang sering saya dengar di area liputan. Istilah ‘Jelas’ berarti acara liputannya memberikan ongkos transportasi alias gratifikasi kepada wartawan, dengan imbal balik tentunya penulisan berita yang positif. Dari kata ‘Jelas’, kemudian bergeser istilah menjadi ‘Jale’ yang menjadi kosakata slank untuk ‘Uang Transportasi Wartawan’.
Perilaku menerima uang sudah menjadi sangat umum dalam dunia wartawan. Saya pribadi jujur sangat jijik dengan perilaku tersebut.
Ketika (akhirnya) saya bergabung dengan grup TEMPO di tahun 2006, sebagaimana cita-cita saya dulu sekali, saya merasa lega.
“Setidaknya, saya tidak menjadi bagian dari media-media ecek-ecek yang kotor dan sarat permainan uang” pikir saya.
Dulu, saya berpikir, media besar seperti TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos dan sebagainya, tidak mungkin bermain uang dalam peliputannya. Dulu, saya pikir, hanya media-media tidak jelas saja yang bermain seperti itu.
Namun fakta berkata lain. Sempat tidak percaya karena begitu dibutakan kekaguman saya pada kewartawanan, Goenawan Mohamad, TEMPO dan lainnya, saya sempat menolak percaya bahwa wartawan-wartawan TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos, Antara dan lain-lainnya, rupanya terlibat juga dalam jejaring permainan uang.
Media-media tidak jelas atau yang lebih dikenal dengan media Bodrek bermain uang dalam peliputannya. Hanya saja, dari segi uang yang diterima, saya bisa katakan kalau itu hanya Uang Receh.
Mafia-nya bukan disitu. Media-media Bodrek bukan menjadi mafia permainan uang dalam jual beli pencitraan para raksasa politik, korporasi, pemerintahan. Adalah media-media besar seperti TEMPO, Kompas, Detik, Antara, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan sebagainya, yang menjadi pelaku jual beli pencitraan alias menjadi mafia permainan uang wartawan.
Siapa tak kenal Fajar (Kompas) yang menjadi kepala mafia uang dari Bank Indonesia dalam permainan uang di kalangan wartawan perbankan?
Siapa tak kenal Kang Budi (Antara News) yang mengatur seluruh permainan uang di kalangan wartawan Bursa Efek Indonesia?
Siapa tak kenal duet Anto (Investor Daily) dan Yusuf (Bisnis Indonesia) yang mengatur peredaran uang wartawan di sektor Industri?
Banyak lagi lainnya, yang tak perlu saya ungkap disini. Tapi beberapa nama berikut ini, sungguh menyakitkan hati dan pikiran saya, sempat menggoyahkan iman saya, lantas betul-betul membuat saya kehilangan iman.
Adalah Bambang Harimurti (eks Pimred TEMPO yang kemudian menjadi pejabat Dewan Pers, juga salah satu orang kepercayaan Goenawan Mohamad di grup TEMPO) yang menjadi kepala permainan uang di dalam grup TEMPO.

Siapa bilang TEMPO bersih?
Saya melihat sendiri bagaimana para wartawan TEMPO memborong saham-saham grup Bakrie setelah TEMPO mati-matian menghajar grup Bakrie di tahun 2008 yang membuat saham Bakrie terpuruk jatuh ke titik terendah. Ketika itu, tak sedikit para petinggi TEMPO yang melihat peluang itu dan memborong saham Bakrie.
Dan rupanya, perilaku yang sama juga terjadi pada media-media besar lainnya, seperti yang sebut di atas.
Memang, secara gaya, permainan uang dalam grup TEMPO berbeda gaya dengan grup Jawapos. Teman saya di Jawapos mengatakan, falsafah dari Dahlan Iskan (pemilik grup Jawapos) adalah, gaji para wartawan Jawapos tidak besar, namun manajemen Jawapos menganjurkan para wartawannya mencari ‘pendapatan sampingan’ di luar. Syukur-syukur bisa mendatangkan iklan bagi perusahaan.
TEMPO berbeda. Kami, wartawannya, digaji cukup besar. Start awal, di angka 3 jutaan. Terakhir malah mencapai 4 jutaan. Bukan untuk mencegah wartawan TEMPO bermain uang seperti yang dipikir banyak orang. Rupanya, agar para junior berpikir demikian, sementara para senior bermain proyek pemberitaan.
Media sekelas TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia dan sebagainya yang sebut tadi di atas, tidak bermain Receh. Mereka bermain dalam kelas yang lebih tinggi. Mereka tidak dibayar per berita tayang seperti media ecek-ecek. Mereka di bayar untuk suatu jasa pengawalan pencitraan jangka panjang.
Memangnya, ketika TEMPO begitu membela Sri Mulyani, tidak ada kucuran dana dari Arifin Panigoro sebagai pendana Partai SRI?
Memangnya, ketika TEMPO menggembosi Sukanto Tanoto, tidak ada kucuran dana dari Edwin Surjadjaja (kompetitor bisnis Sukanto Tanoto)?
Memangnya, ketika TEMPO usai menghajar Sinarmas, lalu balik arah membela Sinarmas, tidak ada kucuran dana dari Sinarmas? Memang dari mana Goenawan Mohamad mampu membangun Salihara dan Green Gallery?
Memangnya, ketika grup TEMPO membela Menteri BUMN Mustafa Abubakar dalam Skandal IPO Krakatau Steel dan Garuda, tidak ada deal khusus antara Bambang Harimurti dengan Mustafa Abubakar? Saat itu, Bambang Harimurti juga Freelance menjadi staff khusus Mustafa Abubakar.
Memangnya, ketika TEMPO mengangkat kembali kasus utang grup Bakrie, tidak ada kucuran dana dari Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang saat itu sedang bermusuhan dengan Bakrie? Lin Che Wei sebagai penyedia data keuangan grup Bakrie yang buruk, semula menawarkan Nirwan Bakrie jasa ‘Tutup Mulut’ senilai Rp 2 miliar. Ditolak oleh bos Bakrie, Lin Che Wei kemudian menjual data ini ke Agus Marto yang sedang berseberangan dengan grup Bakrie terkait sengketa Newmont. Agus Marto sepakat bayar Rp 2 miliar untuk mempublikasi data buruk grup Bakrie tersebut. Grup TEMPO sebagai gerbang pembuka data tersebut kepada masyarakat dan media-media lain, dapat berapa ya? Lin Che Wei dapat berapa?
Fakta-fakta itu, yang semula begitu enggan saya percayai karena fundamentalisme saya yang begitu buta terhadap TEMPO, sempat membuat saya frustrasi. Kalau boleh saya samakan, mungkin kebimbangan saya seperti seorang yang hendak berpindah agama. Spiritualitas dan mentalitas saya goncang akibat adanya fakta-fakta tersebut. Bukan hanya fakta soal permainan mafia grup TEMPO, tetapi juga fakta bahwa media-media besar bersama wartawan-wartawannya, lebih jauh terlibat dalam permainan uang dan jual beli pencitraan, layaknya jasa konsultan.
Mereka, media-media besar ini, tidak bermain Receh, mereka bermain dalam cakupan yang lebih luas lagi, baik deal politik tingkat tinggi, juga transaksi korporasi kelas berat.
Namun semua itu sebetulnya tidak terlalu saya masalahkan, hingga suatu hari saya lihat sendiri bahwa permainan uang dan jual beli pencitraan juga terjadi pada media tempat saya bekerja, TEMPO. Dikepalai oleh Bambang Harimurti sebagai salah satu Godfather mafia permainan uang dan transaksi jual beli pencitraan dalam grup TEMPO, kini tidak hanya bergerak dari dalam TEMPO, tetapi sudah menjadi jejaring antara grup TEMPO dengan para eks-wartawan TEMPO yang membangun kapal-kapal semi-konsultan untuk memperluas jaringan mereka, masih di bawah Bambang Harimurti.
Saya pribadi, memutuskan resign dari TEMPO pada awal tahun 2013. Muak dengan segala kekotoran TEMPO, kejorokan media-media di Indonesia, kejijikan melihat jejaring permainan uang dan jual beli pencitraan di kalangan wartawan TEMPO dan media-media besar lainnya.

Praktik mafia TEMPO kini semakin menjadi-jadi.
Agustus lalu, masih di tahun 2013, saya sempat mampir ke Bank Mandiri pusat di jalan Gatot Subroto. Saat itu, saya sudah resign dari grup TEMPO. Tak perlu saya sebut, kini saya bekerja sebagai buruh biasa di sebuah perusahaan kecil-kecilan, namun jauh dari permainan kotor TEMPO.
Di gedung pusat Bank Mandiri itu, saya memang janjian dengan eks-wartawan TEMPO bernama Eko Nopiansyah yang kini bekerja sebagai Media Relations Bank Mandiri. Ia keluar dari TEMPO dan pindah ke Bank Mandiri sejak tahun 2009, karena dibajak oleh Humas Bank Mandiri Iskandar Tumbuan.
Pada pertemuan santai itu, hadir juga Dicky Kristanto, eks-wartawan Antara yang kini juga menjabat sebagai Media Relations Bank Mandiri. Kami bincang bertiga. Pak Iskandar, yang dulu juga saya kenal ketika sempat meliput berita-berita perbankan sempat mampir menemui kami bertiga. Namun karena ada meeting dengan bos-bos Mandiri, pak Iskandar pun pamit.
Sambil menyeruput kopi pagi, saya berbincang bersama Eko dan Dicky. Mulai dari obrolan ringan seputar kabar masing-masing, hingga bicara konspirasi politik dan berujung pada obrolan soal aksi lanjutan TEMPO dalam ‘memeras’ Bank Mandiri terkait kasus SKK Migas.
Saya lupa siapa yang memulai pembicaraan mengagetkan itu, meski sebetulnya kami sudah tidak kaget lagi karena memang kami, kalangan wartawan (atau eks-wartawan) sudah paham betul perilaku wartawan.
Siapapun itu, Eko maupun Dicky menuturkan keluhannya terhadap grup TEMPO. Begini ceritanya.
“Ketika kasus suap SKK Migas yang melibatkan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini terkuak, saat itu beliau juga menjabat sebagai Komisaris Bank Mandiri. Dan memang harus diakui bahwa aktivitas transaksi suap, pencairan dana dan sebagainya, menggunakan rekening Bank Mandiri. Tapi ya itu kami nilai sebagai transaksi individu. Karena berdasarkan UU Kerahasiaan Nasabah, kami Bank Mandiri pun tidak dapat melihat dan memang tidak diizinkan menilai tujuan dari sebuah transaksi pencairan, transfer atau apapun, kecuali ada permintaan dari pihak Bank Indonesia, PPATK, pokoknya yang berwenang. Oleh sebab itu, kami tidak terlalu memusingkan soal apakah Bank Mandiri akan dilibatkan dalam kasus SKK Migas,” tuturnya.
“Tiba-tiba, masuklah proposal kepada divisi Corporate Secretary dan Humas Bank Mandiri dari KataData. Itu lho lembaga barunya Metta Dharmasaputra (eks-wartawan TEMPO) yang didanai oleh Lin Che Wei (eks-broker Danareksa). Gua kira KataData murni bergerak di bidang pemberitaan. Eh, nggak taunya KataData juga bergerak sebagai lembaga konsultan. Jadi KataData menawarkan jasa solusi komunikasi kepada Bank Mandiri untuk berjaga-jaga apabila isu SKK Migas meluas dan mengaitkan Bank Mandiri sebagai fasilitator aksi suap,” ungkapnya.
“Rekomendasinya sih menarik, KataData menawarkan agar aksi suap SKK Migas dipersonalisasi menjadi hanya kejahatan Individu, bukan kejahatan kelembagaan, baik itu lembaga SKK Migas maupun Bank Mandiri. Apalagi, Metta mengatakan bahwa tim KataData juga sudah bergerak di social media untuk mendiskreditkan Rudi Rubiandini dalam isu perselingkuhan, sehingga akan mempermudah proses mempersonalisasi kasus suap SKK Migas menjadi kejahatan individu semata,” jelasnya.
“Data-data yang ditampilkan KataData memang menarik, karena riset data dilakukan oleh IRAI, lembaga riset milik Lin Che Wei yang menjadi penyedia data utama KataData. Kalau tidak salah waktu itu data utang-utang grup Bakrie yang dibongkar TEMPO juga dari IRAI ya? Itu lho, yang tadinya ditawarin ke pak Nirwan dan karena ditolak kemudian dibayarin Agus Marto Rp 2 miliar untuk menghajar grup Bakrie,” papar dia.
“Kita sih waktu itu melaporkan proposal tersebut kepada para direksi Bank Mandiri. Dan selama sekitar 2 pekan, memang belum ada arahan dari direksi mau diapakan proposal tersebut. Penjelasan pak Iskandar (humas Bank Mandiri) sih, direksi masih melakukan koordinasi dengan Kementerian BUMN dan pemerintahan. Biar bagaimanapun ini isu besar, salah langkah bisa berabe akibatnya. Gua sih yakin, saat itu bos-bos lagi memetakan dulu kemana arah isu ini sebelum memberikan jawaban terhadap proposal yang masuk. Karena selain KataData juga ada dari pihak-pihak konsultan lainnya,” kata dia.
“Eeh, tau-tau Pak Iskandar bilang, gila, TEMPO makin jadi aja kelakuannya. Masak BHM (Bambang Harimurti) sampai menelpon langsung ke pak Budi (Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin) terkait proposal KataData yang memang belum kita respon karena masih memetakan arah isunya. Secara tersirat kita tau lah telepon itu semacam ancaman halus dari BHM dan KataData bahwa jika tidak segera direspon, maka data-data akan dipublikasi, tentunya dalam cara TEMPO mempublikasi data dong yang selalu penuh asumsi dan bertendensi negatif,” ungkap dia.
“Menurut Pak Iskandar, meski sudah diperingati soal bahaya menolak tawaran (alias ancaman) TEMPO grup adalah terjadinya serangan isu negatif kepada Bank Mandiri, rupanya Pak Budi (Direktur Utama Bank Mandiri) bersikeras tidak takut terhadap grup TEMPO. Penolakan memberikan respon cepat terhadap proposal KataData pun disampaikan kepada BHM (Bambang Harimurti),” singkap dia.
“Alhasil, terbitlah Majalah TEMPO edisi 18 Agustus 2013 dengan judul Setelah Rudi, Siapa Terciprat? yang isinya begitu mendiskreditkan Bank Mandiri dalam kasus SKK Migas. TEMPO membentuk opini bahwa aksi suap Rudi Rubiandini tidak akan terjadi apabila Bank Mandiri tidak memfasilitasinya,” keluh dia.
“Ini kan semacam pemerasan halus atau pemerasan Kerah Putih dari jejaring TEMPO (Bambang Harimurti), KataData (Metta Dharmasaputra, Eks-Wartawan TEMPO) dan IRAI (Lin Che Wei, Eks-Broker Danareksa dan pendana utama KataData). Begitu edisi tersebut tayang, kita sih tepuk dada saja menghadapi mafia TEMPO dalam memeras korban-korbannya. Biasanya memang begitu polanya. Begitu ada kasus skala nasional, calon-calon korban seperti kita (Bank Mandiri) akan didekati oleh mereka, ditawari jasa konsultan dengan ancaman kalau tidak deal, ya di blow up. Padahal data yang mereka publish tidak sepenuhnya benar. Tapi semua orang juga tau kalau TEMPO sangat pintar memainkan asumsi dan tendensi negatif,” keluh dia.
Mendengar cerita tersebut, dalam hati saya bersyukur kalau saya sudah tidak lagi menjadi bagian dari TEMPO yang sudah tidak bersih lagi. Mereka sudah menjadi bagian dari praktik mafia permainan uang wartawan dan transaksi jual beli pencitraan. Sama saja dengan media-media lainnya kayak Kompas, Antara, Detik, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan lain-lain.
Saya lega sudah dibukakan mata dan tidak lagi buta terhadap TEMPO maupun mimpi saya menjadi seorang wartawan yang bersih. Sulit menjadi bersih di kalangan wartawan. Godaan begitu banyak. Tidak hanya di luar organisasi tempat kamu bekerja, tetapi juga di dalam organisasi tempatmu bekerja.
Hampir mirip seperti PNS, mengikuti arus korupsi adalah sebuah keharusan, karena jika tidak, karirmu akan mandek. Korupsi yang melembaga tidak hanya terjadi di lembaga pemerintah. Jejaring wartawan, media seperti yang terjadi pada grup TEMPO, meski mereka seringkali memeras dengan ‘kedok’ melawan korupsi, toh kenyataannya grup TEMPO telah menjadi bagian dari praktik mafia permainan uang wartawan dan transaksi jual beli pencitraan.
TEMPO dan media-media besar lainnya tidak lagi bersih. Korupsi dalam grup TEMPO telah melembaga alias terorganisir, sebagaimana korupsi di organisasi pemerintahan, departemen dan sebagainya.
Saya bersyukur dibukakan mata dan dijauhkan dari dunia itu. Lebih senang dan tenang batin bekerja sebagai buruh biasa seperti yang saya lakukan kini.
Insya Allah jauh dari dunia hitam. (Jilbab Hitam, mantan wartawan Tempo/ KCM/Kompasiana)

Sumber :
=================================================================================

Deception Operation of Intelligence for PKS Bagian 2 A

Ini adalah sambungan dari Bagian pertama 
Dalam kasus suap impor daging sapi, ada tiga jaringan besar yang bekerja secara masif untuk menghancurkan nama baik PKS
tiga jaringan besar yang memang sudah lama antipati kepada semakin besar dan berkembangnya PKS.

Pertama, 
JARINGAN JIL vs PKS 
Jaringan islam liberal memang punya penilaian tersendiri atas keberadaan PKS. PKS lah partai yang paling menolak keberadaan mereka (kaum JIL) melalui gerakan anti JIL yang selalu dikampanyekan kader kader PKS di bawah.
Jaringan JIL pada kasus suap impor sapi adalah dengan keterlibatan seorang Elda Devianne Adiningrat. Elda Devianne Adiningrat dan suami Denny Pramudia Adiningrat adalah pasangan yang menganut aliran kepercayaan (berdasarkan informasi orang dalam kejaksaan).
Yang mengoperate seorang Elda Devianne Adiningrat adalah tak lain Prof Dr Ahmad Mubarok (anggota dewan pembina demokrat). Dari mana hubungannya ? Perlu publik ketahui Ahmad Mubarok  adalah juga ketua badan pertimbangan organisasi HKTI dimana elda Elda Devianne berada sebagai ketua umum asosiasi benih indonesia sekaligus anggota dan pengurus HKTI. 
Selanjutnya diketahui motif awalnya kasus suap impor daging sapi ini ada keterlibatan tangan langsung kaum JIL adalah keterlibatan majalah TEMPO sebagai media paling terdepan membuat black campaign atas kasus suap impor sapi dan penjelekkan nama baik PKS.
Semua ada kisahnya, TEMPO adalah media yang pertama memberitakan kasus suap impor daging sapi pada tahun 2011 artinya 2 tahun lebih awal dari gonjang ganjing kasusnya pada 2013, tetapi usaha 2011 itupun gagal total. Dan ini yang perlu dicatat, tahun 2011 TEMPO sudah berusaha membuat PKS terpuruk, tapi gagal total dalam membooming kasus tersebut 
tetapi pemilik TEMPO, Goenawan Mohamnad yang sahabat Ahmad Mobarok pun bersekongkol sepakat untuk menjatuhkan PKS pada tahun politik 2013, dengan mempersiapkan selama dua tahun skenario jebakan melalui versi HKTI conection lewat Elda Devianne yang memang dikenal Mubarok biasa 'bermain' di Kementan sebagai broker (informasi bocoran Nazarrudin) 
Dan lihatlah bukti bukti di pengadilan, semua isi BAP, bukti dan transkrip lebih banyak terjadi pada pertengahan 2011 sd akhir 2012. Ahmad Mubarok memang selalu kita temui di media, bicara nyinyir tentang PKS, koalisi dan posisi menteri PKS.
Dan selama rentang 2011-2012 Ahmad Mubarok dan Goenawan Mohammad mulai membangun hubungan di lembaga hukum seperti kejaksaan dan KPK untuk memberikan informasi penting terkait kasus suap impor sapi dan bank BJB (nanti diberikan keterangan nya lebih jelas).
Goenawan Mohammad lalu menggunakan jaringan TEMPO di lembaga KPK yaitu Johan Budi yang pernah menjadi ketua pemberitaan daerah jakarta media TEMPO untuk menindak lanjuti informasi yang dibuat skenarionya versi Ahmad Mubarok via Elda Devianne Adiningrat.
Hal ini juga membuktikan bukan orang KPK yang 'sakti' yang bisa tahu segala kasus dan urusan, tetapi mereka di KPK biasanya menerima informasi terlebih dahulu dari seseorang yang memang mengetahui kasus tersebut lebih dulu (ya seperti informasi Goenawan Mohammad JIL pemilik TEMPO kepada Johan Budi jubir KPK yang mantan anak buahnya dulu). 
Elda Devianne Adiningrat memang berhasil grasak grusuk pada satu tahun di 2012 untuk membuat terjadinya bukti hubungan hubungan sehingga bisa menjerat elite PKS di dalam nya.
=================================================================================
Tantowi Yahya : Israel Tidak Memusuhi Islam

Kunjungan Bersama Pemred Media
Politisi Partai Golkar Tantowi Yahya mengakui kunjungannya ke Israel.Kedatangannya kesana, Tantowi Yahya mengaku ditemani oleh para pemimpin redaksi surat kabar nasional.
“Saya bersama dengan wapemred Tempo, Kompas, Jakarta Post, Antv, Dekan Fakultas politik universitas Paramadina dan exc director Habibie Centre. Diundang oleh Australian-Israel Association ke Israel untuk melihat melihat proses perdamaian Israel-Palestina dan perkembangan terkini Arab Spring,” ujar Tantowi dalam penjelasannya, khusus kepada Tribun News Rabu (12/6/2013).

Diinisiasi Amerika Serikat
“Undangan ini dilayankan terkait dengan inisiatif perdamaian terkini yang diinisiasi oleh Amerika. Sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar, mereka merasa penting mengundang representasi Indonesia. Kami dipertemukan dengan para petinggi negara tersebut, parlemen, kalangan media, akademisi, LSM sampai masyarakat biasa,” papar Tantowi.
Dalam kunjungan itu, Tantowi menjelaskan juga dipertemukan dengan pejabat dari Palestina. Dari berbagai pertemuan yang dilakukan, ujarnya lagi, kemudian bisa disimpulkan persepsi akan perdamaian itu sendiri berbeda antara pemerintah Israel dengan kalangan masyarakat di Indonesia.
“Dalam kunjungan ini, kami juga melihat bagaimana Israel masih memberlakukan Palestina secara tidak adil. Mereka juga dengan mudahnya melanggar kesepakatan, hal yang banyak dikeluhkan oleh kalangan internasional. Selama disana kami juga diajak ke pemukiman (settlement) yang selama ini jadi sumber masalah dan ternyata banyak diantaranya berupa perumahan mewah,” Tantowi menjelaskan.

Tidak Memusihi Islam ?
Meski menganggap Isreal belum adil, namun Tantowi meyakinkan Israel tidaklah memusuhi Islam. Diungkap, 30 persen penduduk Israel beragama Islam. Tantowi juga memastikan kedatangannya ke Israel bukan kapasitasnya sebagai anggota perwakilan Komisi I DPR.
“Islam juga terwakili di parlemen. Dari 120 anggota parlemen, 8 diantaranya representasi dari Islam. Saya hadir dalam kapasitas pribadi, tidak mewakili partai dan DPR. Saya ikut karena sebagai anggota Komisi I yang membidangi luar negeri,” katanya.
“Saya perlu mengetahui informasi dari pihak mereka sebagai tambahan dari informasi yang saya terima dari pejabat Palestina ketika Komisi I berkunjung ke Palestina tahun 2010 dan 2013 lalu,” pungkas Tantowi Yahya seraya menegaskan, kedatangannya ke Israel bukan kunjungan rahasia.
=================================================================================
Ketika TEMPO dan ILC Dongkrak Elektabilitas PKS

Akhir-akhir ini semua orang membicarakan PKS, tidak di warung kopi, lorong-lorong, pinggir pantai, koran, radio, facebook, twitter, kompasiana, apa lagi di TV, semua tentang PKS. Banyak yang benci, tapi tidak sedikit juga yang mendukung. Apa pun tanggapan dari berbagai pihak, saya tidak bisa berbohong kepada diri sendiri bahwa PKS menarik perhatian dunia saat ini; baik dunia nyata maupun dunia maya. Fakta ini coba saya uraikan bukan karena saya punya banyak teman di PKS, tapi saya hanya mencoba untuk menilai dengan objektif dan fair dengan apa yang saya lihat dan rasakan. Dan untuk ke depan sepertinya saya akan banyak menulis tentang PKS, karena apa pun kalau bicara PKS pasti ratingnya tinggi.
Berikut Kejujuran Fakta yang mencatat PKS menang berlapis-lapis. Setidaknya ada 3 lapis. Silahkan diperhatikan. Kritik saya kalau salah.
Lapis pertama, saat ini PKS begitu populer di dunia maya sebagai representasi dari itu kita mencoba melihat penilaian Om Google terhadap PKS dengan mencatat angka 40.900.000 hasil (0.16 detik).
Angka PKS ini mengalahkan 3 partai besar lainnya, Demokrat cuma 29.600.000 hasil (0.24 detik). PDIP harus puas dapat angka 12.400.000 (0.25 detik) dan Golkar hanya dengan angka 12.200.000 hasil (0.23 detik). Saya harus dengan ikhlas mengakui penilaian Om Google ini tanpa intervensi dari pihak mana pun.
Atau kita juga bisa melihat data di kompasiana ini yang tercinta. PKS mendapat angka 432.000 hasil (0.17 detik), Demokrat 74.000 hasil (0.22 detik), Golkar 12.200 hasil (0.23 detik) dan PDIP 35.900 hasil (0.16 detik). Silahkan cek sendiri!
Lapis kedua, terkait dengan penolakan PKS terhadap rencana pemerintah menaikan harga BBM, koran Tempo setidaknya mencatat 87.9 % (sekarang 90% -ed) rakyat mendukung langkah PKS menolak kenaikan harga BBM. Saya tidak bisa ngomong banyak, karena ini penilaian publik.
Lapis ketiga, nah saya rasa jutaan mata juga menyaksikan tadi malam di acara diskusi paling laris di negeri ini; Indonesia Lawyers Club (ILC). Sikap penolakan PKS dengan rencana pemerintah menaikan harga BBM yang berlawanan dengan Demokrat, PKS kembali menang. Indikasi kemenangan PKS dalam diskusi hangat tadi malam itu tidak perlu dilacak, semuanya sudah jelas. PKS tampil prima dengan alasan yang rasional (saya tidak boleh bohong untuk mengatakan ini) dengan argumen intelektual dari Andi Rahmat, dkk. Pengamat politik juga memberi pandangan yang positif terhadap PKS, dan tidak seperti biasanya, kali ini Ridwan Saidi dan seniman Sudjiwo Tedjo memberi dukungan kepada PKS terkait dengan sikap PKS ini. Hampir tidak ada perlawan berarti dari Demokrat dan Pemerintah (Wamen ESDM), saya dengan sadar justru melihat kubu Demokrat hanya melawak.
Saya harus mengakui bahwa saat ini partai yang paling berpeluang menang di 2014 mendatang adalah PKS. Sekali lagi alasannya bukan karena saya punya banyak teman di PKS, tapi alasannya dengan teori sederhana “Semakin tinggi popularitas maka ruang elektabilitas juga semakin luas”.