Tampilkan postingan dengan label Muhammad Hatta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhammad Hatta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Agustus 2025

Presiden PKS Ajak Generasi Muda Jadikan Semangat Proklamasi Bahan Bakar Perjuangan Bangsa


Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS),
Almuzzammil Yusuf. (PKSFoto/Fathur)


JAKARTA — Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Almuzzammil Yusuf, menyampaikan pesan kebangsaan dalam Grand Launching Lomba Baca Teks Proklamasi ala Bung Karno yang diselenggarakan Fraksi PKS DPR RI pada Selasa (19/08).

Jumat, 27 Desember 2024

Presiden PKS: Perjuangan Para Ibu Adalah Pondasi Masa Depan Bangsa


Tangerang Selatan – Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ahmad Syaikhu, memberikan sambutan dalam acara Puncak Peringatan Hari Ibu yang digelar Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPP PKS.

Acara bertajuk Apresiasi Para Ibu Pejuang Keluarga ini berlangsung di Kawasan Ekowisata Keranggan, Tangerang Selatan, pada Sabtu (21/12/2024).

Rabu, 12 April 2023

Peringati 73 Tahun Mosi Integral Natsir, HNW Kembali Usulkan 3 April sebagai Hari NKRI

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PKS 
Hidayat Nur Wahid

Jakarta – Anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid, mengusulkan kembali agar 3 April tanggal diterimanya Mosi Integral Natsir, ditetapkan oleh Negara sebagai Hari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Sebab, imbuhnya, tanpa adanya Mosi Integral yang diterima bulat oleh DPR RIS dan Pemerintah (Presiden Soekarno dan Wapres Hatta) pada 3 April 1950 itu, maka tidak ada NKRI apalagi dengan jargon ‘NKRI harga mati’.

Mengapa, HNW sapaan akrabnya mengingatkan, bahwa sebelum mosi integral tersebut diterima, NKRI sudah ditiadakan oleh kolonialis Belanda, yang ada justru adalah RIS (Republik Indonesia Serikat).

Sabtu, 04 Juni 2022

Mencari Kalimatun Sawa

dok: Mahmud/PKSFoto

Oleh Dr. Salim Segaf Aljufri, Ketua Majelis Syura PKS dan Wakil Ketua Umum Persatuan Ulama Muslim Sedunia (IUMS)

Dalam kitab suci al-Qur’an, istilah kalimatun sawa’ bermakna satu pernyataan atau keyakinan yang mempertemukan berbagai perbedaan. Dalam konteks keyakinan beragama, kalimat yang sama itu adalah “tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” (QS Ali Imran: 64).

Ulama modern asal Aceh, Hasbi as-Shiddiqy menggunakan istilah kalimatun sawa’ sebagai konsep kesepakatan di tengah perbedaan keyakinan, tidak hanya menyangkut masalah keagamaan, namun juga masalah kemasyarakatan dan kebangsaan. Pandangan ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk, tapi memiliki komitmen bersama.

Jumat, 10 September 2021

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid Sampaikan Pesan Kepada Enam Parlemen Remaja 2021 Dapil DKI



Jakarta – Wakil Ketua MPR RI sekaligus Wakil Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid menerima kunjungan enam siswa-siswi anggota Parlemen Remaja 2021 dari daerah pemilihan DKI Jakarta melalui virtual, Senin (6/9/2021).

Mengawali pesan nasihatnya Hidayat Nur Wahid yang karib disapa HNW ini menyampaikan ucapan selamat kepada generasi muda yang telah berada dijalur yang benar.

Rabu, 28 Oktober 2020

Lomba Pidato Biografi Tokoh Bangsa, Ketua FPKS: Nilai-Nilai Keteladanan Harus Tersampaikan



Jakarta (27/10) — Ketua Fraksi PKS DPR RI, Jazuli Juwaini menyampaikan harapan-harapan yang harus diteladani dari terselenggaranya Lomba Pidato Biografi Tokoh Bangsa yang diselenggarakan Fraksi PKS DPR RI.

Hal ini disampaikan Jazuli dalam penutupan Lomba Pidato Biografi Tokoh Bangsa 2020, Jakarta, Selasa (27/10) melalui virtual. Jazuli menyampaikan bahwa Fraksi PKS selalu berada dalam tiga garis perjuangan yaitu Keummatan, Kerakyatan dan Mengokohkan Nilai-Nilai Nasionalisme Indonesia.

Kamis, 19 Desember 2019

Jazuli Juwaini: Tantangan Bangsa Semakin Berat, Semangat Bela Negara Harus Semakin Kuat


Jakarta (19/12) -- Ketua Fraksi PKS DPR Jazuli Juwaini mengajak segenap komponen bangsa menanamkan semangat bela negara dalam setiap laku kehidupan berbangsa dan bernegara mengingat tantangan bangsa ke depan semakin berat.

Sebagaimana Mr. Syafrudin Prawiranegara dalam kondisi genting atas perintah Soekarno-Hatta mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukit Tinggi Sumatera Barat pada 19 Desember 1948. Peristiwa sejarah itu kemudian diperingati sebagai Hari Bela Negara.
“Bela negara itu tanggung jawab kita sebagai rakyat dan warga negara, jadi bukan hanya domain militer atau angkatan bersenjata. Justru rakyat menjadi komponen penting dan strategis dalam bela negara. Caranya dalam setiap sikap dan perbuatan selalu menimbang kepentingan, keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsa,” ungkap Jazuli.

Minggu, 07 April 2019

HNW : Kita Usulkan 3 April Sebagai Hari Dan Bulan Nkri



Bentuk negara Indonesia hingga 3 April 1950 bukan NKRI namun Republik Indonesia Serikat (RIS). 

Bentuk yang demikian akibat dari ketidakrelaan Belanda akan kuatnya persatuan Indonesia. Untuk itu Belanda dengan berbagai cara ingin bangsa ini lemah dan menjajah kembali. Bentuk RIS membuat kegundahan dari Mohammad Natsir. 

Natsir adalah Ketua Fraksi Partai Masyumi di parlemen. Agar Indonesia kembali ke bentuk negara sesuai dengan cita-cita proklamasi maka Natsir di depan anggota parlemen pada 3 April 1950 menyampaikan pidato Mosi Integral.

Kamis, 02 Agustus 2018

HNW: Atasi Terorisme-Radikalisme-Separatisme, Pahami Pancasila Dengan Benar


TANGERANG SELATAN -Terorisme, Radikalisme dan Separatisme tak akan jadi masalah bagi bangsa Indonesia jika satu syarat terpenuhi. Syarat itu adalah: pahami Pancasila dengan baik dan benar.

Demikian ditegaskan Wakil Ketua MPR RI, Dr. Hidayat Nur Wahid ketika membuka Sosialisasi Empar Pilar di Aula Student Centre Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa (31/7/2018).

Untuk itulah Sosialisasi Empat Pilar MPR RI ini diselenggarakan. Soalnya, selama ini mungkin ada hal yang ditutupi-tutupi, sehingga menimbulkan saling curiga, tutur Hidayat.

Selasa, 08 Mei 2018

Hidayat Nur Wahid: Jika Ada Yang Bilang Islam Indonesia Radikal, Lihat Sejarah Fatwa Jihad Dan Mosi Integral Indonesia



Jakarta – Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) memberikan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada ratusan guru serta pelajar SMP IT Baitussalam Prambanan Jawa Tengah. 

Acara yang digelar di Gedung Nusantara V, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta, Jumat (4/5/2018) diikuti secara antusias, apalagi saat HNW memberikan materi perihal sejarah perjuangan Indonesia. Hadir mendampingi HNW, Kepala Biro Humas Setjen MPR RI Siti Fauziah.

Kamis, 05 April 2018

Hidayat Nur Wahid: Semestinya DPR Dan Pemerintah Memperingati Peristiwa Mosi Integral M. Natsir


Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menegaskan peristiwa Mosi Integral Mohammad Natsir pada 3 April 1950 merupakan peristiwa yang sangat luar biasa penting. 

Peristiwa mosi integral itu telah menyelamatkan Indonesia dari dicabik-cabik penjajah Belanda. 

“Mosi integral Mohammad Natsir pada 3 April 1950 ini agar menjadi elan vital dan menyemangati kita semua untuk menyelamatkan Indonesia agar tidak bubar tetapi semakin jaya. 

Senin, 19 Februari 2018

HNW Sesalkan Teror Kepada Ulama Padahal Ulama Punya Peran Besar Pada Indonesia


Saat memberi Sosialisasi Empat Pilar pada warga Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, 16 Februari 2018, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) menyesalkan kejadian-kejadian yang menimpa ulama, ustad, dan aktivitas masjid serta musholla beberapa hari terakhir ini.

Disebut Brigade Persis dibunuh, masjid dirusak, musholla diserang, ada remaja masjid diterror dengan pisau. "Serta ada upaya mengatur isi ceramah di masjid dan musholla oleh Bawaslu," ujar HNW di hadapan ratusan peserta sosialisasi.

Selasa, 05 Desember 2017

HNW: Jangan Berliku Menuju NKRI

HNW: Jangan Berliku Menuju NKRI



"Bangsa Indonesia sepakat memilih bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak merdeka," ujar Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) saat memberi Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada warga Jakarta Selatan di Cilandak Barat, Jakarta, 2 Desember 2017.

Bentuk NKRI itu tertuang sejak tanggal 18 Agustus 1945 dalam UUD Tahun 1945 dalam Bab I, Pasal I, dan Ayat 1. 

Bentuk NKRI dipertegas oleh MPR periode 1999-2004 di mana bentuk ini tak boleh diubah dengan cara dan bentuk apapun. "Tak boleh diubah menjadi negara komunis, khilafah, atau bentuk separatis lainnya," ujar HNW.

Senin, 06 November 2017

Hidayat Nur Wahid: Kebersamaan Dan Kenegarawanan Perlu Dihadirkan Kembali


Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid membuka dan menjadi narasumber dalam diskusi kebangsaan bersama BEM KM (Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa) Universitas Gadjah Mada di Auditorium Pasca Sarjana UGM, Jogyakarta, Kamis (2/11). 

Hidayat Nur Wahid mengungkapkan pentingnya menghadirkan kebersamaan dan kenegarawanan di tengah menguatnya perbedaan-perbedaan saat ini.

Hidayat Nur Wahid mengatakan bahwa Indonesia terbentuk dari dialektika kebersamaan dan relasi dari kaum muda terpelajar. "Merekalah (kaum muda terpelajar itu) yang menyelamatkan dan tidak membuat Indonesia terpecah," katanya.

Selasa, 17 Oktober 2017

Merawat Kebhinnekaan Menuju Indonesia Emas 2045


"Kita mempunyai kemampuan karena memiliki Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika untuk merawat kebhinnekaan tanpa meninggalkan karakter," seperti yang terjadi di Myanmar, Palestina dan Kosovo.
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua MPR RI Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA. saat menyampaikan Orasi Kebangsaan "Merawat Kebhinnekaan dan Memajukan Pemuda Menuju Indonesia Emas 2045," pada acara Seminar dan Lokakarya Nasional serta Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di hadapan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), di Graha Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) Jawa Barat, pada Kamis, 12 Oktober 2017.

Minggu, 08 Oktober 2017

Kontribusi Tokoh Islam Dalam Menjaga Keutuhan NKRI


Dengan tema kebhinnekaan, keyakinan dan beragama, disertai dengan peristiwa sejarah menjadi salah satu bahan sosialisasi yang disampaikan Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid. saat memberikan materi sosialisasi Empat Pilar MPR RI di hadapan 1.600 peserta yang hadir pada acara “Apel Kebangsaan, Milad 52 Tahun KOKAM Pemuda Muhammadiyah dan Diksuspimwil” Provinsi Sumatera Utara. 

Acara tersebut berlangsung di Alun-alun Deli Serdang, Jum’at (6/10). Ikut hadir pada acara tersebut anggota MPR RI Ansory Siregar (Fraksi PKS), Ahmad Hanafi Rais (Fraksi PAN), Tengku Erry Nuradi (Gubernur Sumatera Utara), Bakhtiar Ahmad Sibarani (Bupati Tapanuli Tengah), Zainuddin Mars (Wakil Bupati Deli Serdang) dan Dahnil Anzar Simanjuntak, SE., ME.( Ketua Umum Pempinan Pusat Pemuda Muhammadiyah).

Selasa, 03 Oktober 2017

Wakil Ketua MPR: Diawal Kemerdekaan, Tokoh Islam Menjaga Agar Indonesia Tak Pecah


Saat melakukan Sosialisasi Empat Pilar di Aula Mitra Nusantara, Pasar Minggu, Jakarta, 30 September 2017, kepada ratusan warga Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengatakan bukan perkara mudah mengurus negara yang baru merdeka.

Ia mencontohkan negara Palestina dan Kosovo meski sudah menyatakan kemerdekaannya namun masih ada negara yang tidak mengakuinya. 

Untuk itu para tokoh-tokoh Islam rela menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta. "Para tokoh Islam memahami betul sehingga Proklamasi 17 Agustus 1945 perlu dijaga," ujarnya. "Tokoh Islam menerima penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta agar Indonesia tetap bersatu," tambahnya.

Rabu, 23 Agustus 2017

Hidayat Nur Wahid: Pendiri DDI Penyelamat NKRI


Di hadapan kader dan simpatisan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDI) Kota Bandar Lampung, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengajak keluarga besar DDI mencontoh dan melanjutkan perjuangan pendiri sekaligus pengurus pusat DDI Mohammad Natsir. 

Mohammad Natsir, menurut Hidayat adalah sosok pahlawan yang sangat penting dalam menjaga tetap utuh dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Berkat keberaniannya menyampaikan mosi integral Natsir dihadapan sidang paripurna DPR RIS 3 April 1950, Indonesia yang saat itu dihadapkan pada perpecahan, bisa kembali utuh di bawah konstitusi UUD 1945. 

Minggu, 04 Juni 2017

Peran Islam Sentral Wujudkan Kemerdekaan RI


a
JAKARTA (4/6) -- Wakil Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidyat Nur Wahid kembali menegaskan peran umat Islam yang sentral dalam mewujudkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

"Sejarah secara jujur jelas menegaskan peran umat Islam dalam merebut dan mengawal kemerdekaan. Itu menunjukkan fitrahnya umat Islam di Indonesia," kata Hidayat Nur Wahid dalam acara tasyakuran 74 tahun Hijriyah Proklamasi Kemerdekaan RI di Gedung DPP PKS Jakarta Selatan, Ahad (4/6/2017).

Senin, 26 Desember 2016

Hidayat Nur Wahid: Umat Islam harus Tampil Terdepan Membendung Bangkitnya Paham Komunis di Indonesia


Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid saat memberikan sambutan. (GoNews/Muslikhin)
TANGERANG SELATAN- Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, kembali mengingatkan warga masyarakat Banten, untuk tidak melupakan para tokoh dari Banten yang sudah memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia. 
Warga Banten yang mayoritas umat Islam juga diminta untuk menjadi garda terdepan dalam membendung paham komunis.
Soal kepahlawanan para tokoh Banten, kata Hidayat, bukan hanya sekedar diingat, tapi juga harus ditiru tindak tanduknya dengan cara mengisi pembangunan dan menjaga kesatuan NKRI sebagai bentuk mengapresiasi jasa para pahlawan tersebut.